Sekarang semuanya berbeda. Bicara sepak bola Indonesia menjadi topik penting, karena sepak bola telah berubah menjadi sebuah ikon nasional. Bicara sepak bola berarti bicara nilai-nilai: moralitas, perjuangan, profesionalisme, yang hak menghancurkan yang bathil. Intinya nilai-nilai idealisme dan nurani mendominasi perbincangan tentang sepak bola Indonesia.
Inilah momentum terbaik yang dimiliki sepak bola Indonesia untuk kembali menegakkan kepala sebagai cabang olah raga bermartabat. Bertahun-tahun sepak bola Indonesia hanyalah menjadi aib bagi bangsanya sendiri. Kata-kata negatif seperti: kalah (melulu), rusuh (terus), dan kotor (selalu), adalah tiga kata yang kalau disurvei, mungkin menempati urutan teratas dalam benak setiap orang ketika bicara sepak bola di Indonesia.
Sukses menjadi juara tanpa mahkota pada Piala AFF 2010 melambungkan citra luar biasa sepak bola Indonesia. Padahal, sebelumnya sudah tiga kali Tim Nasional Indonesia jadi finalis. Lalu, mengapa tahun ini, ketika kembali gagal jadi juara ke-4 kalinya di ajang yang sama, menjadi lebih istimewa daripada biasanya? Karena Timnas justru dijadikan oleh seluruh masyarakat Indonesia, tidak hanya pecinta sepak bola, menjadi lambang perjuangan menegakkan nilai idealisme dan nurani melawan induknya sendiri, PSSI, yang banyak kalangan menilai telah mencederai nurani bangsa ini. Perlawanan ini pun berlanjut ke ajang Liga Sepak Bola Indonesia.
Liga Primer Menantang Liga Indonesia
Bicara soal liga sepak bola, maka tidak akan lepas, bahkan didominasi oleh politik dan bisnis. Selama ini, hanya dua elemen itu yang ada dalam liga sepak bola. Lalu, ada dimana nilai-nilai luhur sportifitas? Nilai luhur kemanusiaan dalam berkompetisi ini hanya terdapat di lapangan dalam kurun 2 x 45 menit! Sebelum dan sesudahnya? “It’s business & politics as usual”. Liga Super Indonesia (LSI) adalah liga reguler kasta tertinggi di Indonesia, dimana semua klub pesertanya adalah klub profesional. Semua klub profesional ini adalah badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas, jadi semua klub peserta LSI adalah sebuah “business entity”. LSI, diselenggarakan dan dimiliki PT Liga Indonesia, yang juga adalah sebuah “business entity”. Artinya, baik klub peserta liga maupun lembaga pemilik liga, adalah perusahaan yang berorientasi pada profit bisnis.
Bagaimana dengan Liga Primer Indonesia (LPI)? Persis sama! Pesertanya adalah klub profesional dan berbentuk Perseroan Terbatas. Penyelenggara dan pemiliknya adalah PT Liga Primer Indonesia. Mereka adalah perusahaan yang harus berorientasi pada profit agar bisa “sustainable”. Namun ada perbedaan dalam struktur kepemilikan penyelenggara liga dan kepemilikan klub peserta liga. PT Liga Indonesia dimiliki 95% oleh PSSI. Sampai sekarang tidak pernah diketahui dengan pasti siapa pemilik 5% sisanya. Menurut beberapa investigasi, 5% sisanya dimiliki oleh sebuah yayasan bernama When I’m 64. Yayasan dengan nama yang lumayan “edgy” ini, menurut investigasi tersebut, dimiliki oleh dua tokoh sepak bola dan usahawan besar Indonesia yang kebetulan sama-sama punya inisial NB! Namun, saya agak meragukan keabsahan investigasi ini, karena belum pernah melihat akta pendirian PT Liga Indonesia, dan mereka yang menginvestigasi kini tergabung di PT Liga Primer Indonesia.
PT Liga Primer, dimiliki oleh sebuah konsorsium pengusaha yang dipimpin oleh Arifin Panigoro. Siapa sajakah pengusaha anggota konsorsium tersebut? Sampai sekarang tidak pernah jelas dan terbuka. Bisik-bisik di kalangan para pengusaha nasional, mereka yang tergabung dalam konsorsium LPI terdiri dari seorang pengusaha perminyakan asal Amerika Serikat dan seorang pengusaha bisnis keuangan, otomotif & pertambangan senior Indonesia dengan inisial TPR. Namun sekali lagi, ini hanya bisik-bisik. Tentu saja, baik PT Liga Indonesia dan PT Liga Primer, sama-sama punya hak untuk merahasiakan data-data yang mereka miliki. Jadi kalau harus meminta konfirmasi dari mereka, mungkin tidak akan pernah diberikan. Namun pola hubungan klub dengan liga, di Liga Super berbeda dengan pola hubungan klub dengan liga di Liga Primer.
Klub peserta LSI tidak memiliki hubungan kepemilikan dengan PT Liga Indonesia. Mereka rata-rata adalah klub warisan masa kompetisi sepak bola Indonesia, ketika masih terbagi antara klub amatir perserikatan milik Pemerintah Kota/Kabupaten dengan klub semipro Galatama (Liga Sepakbola Utama). Baru dua tahun belakangan ini mereka semua harus menjadi klub professional berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Jadi wajar apabila sebagian besar klub ini diadopsi oleh para Pemkot/Kab dan masih dibiayai oleh APBD. Setiap klub memakan biaya rata-rata Rp 20 miliar pertahun. Jadi dalam satu musim kompetisi yg diikuti oleh 18 klub (kurang lebih 9 bulan) maka uang yang berputar sekitar Rp 360 miliar. Bayangkan uang tersebut 80% nya adalah uang rakyat dalam APBD. Baru pada 2009, PERSIB Bandung adalah satu-satunya klub warisan perserikatan yang sudah tidak menggunakan uang APBD Kota Bandung lagi. Arema Malang, Semen Padang, dan Pelita Jaya adalah klub warisan Galatama yang memang tidak pernah menggunakan uang APBD. Bontang FC juga tidak menggunakan dana APBD.
Sesuai dengan konsepnya, kepemilikan Liga Primer akan dimiliki oleh klub pesertanya. Klub peserta LPI rata-rata adalah klub bentukan baru, atau “resurrection” dari klub lama yang tidak puas dengan Liga Super Indonesia. Persebaya Surabaya, Persema Malang, Persibo Bojonegoro, dan PSM Makassar adalah klub yang masuk kategori kedua. Walau tidak ada satupun yang menggunakan dana APBD, tetapi rata-rata klub di LPI juga butuh dana operasional yang kurang lebih sama dengan klub di LSI yang menggunakan APBD, yaitu Rp 20 miliar pertahun. Jadi kalau pesertanya 18 klub, maka uang yang berputar juga Rp 360 miliar setahun. Darimanakah mereka mendapat dana sebesar itu? Hampir semua klub peserta LPI mendapat suntikan dana dari konsorsium PT Liga Primer Indonesia. Suntikan dana ini masuk melalui berbagai skema, dari pinjaman hingga penyertaan modal. Pinjaman yang diberikan nilainya tidak besar, tetapi penyertaan modal bisa mencapai 90% yang tentu saja tidak dibayarkan sekaligus, tapi sesuai jadwal, dengan dibukukan sebagai “shareholders’ loan”. Artinya apa? Hampir semua klub peserta LPI dimiliki oleh konsorsium PT LPI. Konsekuensinya, PT LPI menempatkan orang-orangnya di posisi strategis & menentukan di tiap klub. Risikonya, jika merugi, karena biaya operasional tidak berhasil ditutupi oleh penghasilan tiket, sponsor & hak siar maka akan ditanggung oleh PT LPI! Jika profit, tahu kan akan masuk ke kantong siapa?
Tentu saja orang lokal/daerah boleh membeli kembali saham/”buy back” konsorsium LPI di klub. Caranya, tentu dengan praktik bisnis biasa. Jika dalam keadaan merugi bisa dibeli dengan harga saham di bawah harga buku/nominal saham. Namun, jika dalam keadaan untung ? Darimana Konsorsium LPI mendanai sekitar Rp 300miliar setahun untuk operasional klub-klub pesertanya? Bisik-bisik lagi nih, dari seorang manager investasi top Asia, tiga anggota konsorsium LPI patungan sampai USD 60 juta! Mereka berani “standby” dana sebesar itu untuk diinvestasikan, karena potensi pasar penggemar sepak bola Indonesia yang luar biasa! Kapitalisasi sebuah klub profesional di Indonesia bisa mencapai USD 3juta/tahun. Sebuah kompetisi liga terdiri dari 18 klub, maka silakan hitung sendiri kapitalisasi liga sepak bola Indonesia yang selama ini dimonopoli PT Liga Indonesia.
Potensi besar juga terdapat di tayangan siaran langsung pertandingan liga sepak bola di layar televisi. Antv berani mengikat PT Liga Indonesia untuk menayangkan LSI selama 10 tahun dari 2007, dengan nilai Rp 100 miliar. Artinya Antv harus membayar Rp 10 miliar pertahun ke LSI. Angka fantastis? Coba kita “break down” dulu: Dengan perolehan rating dan sharing tv di atas rata-rata untuk setiap tayangan langsung pertandingan, selama 9 bulan dalam setahun, maka pemasukan iklannya pun akan dengan mudah melewati angka Rp 10 miliar pertahun. Jadi wajar apabila Indosiar pun menatap penuh optimisme tayangan pertandingan LPI.
Apalagi sekarang opini dan simpati masyarakat, yang tidak suka sepak bola sekalipun, sedang condong ke LPI! Opini dan simpati memang condong ke LPI, karena Irfan Bachdim dan Persema, memilih LPI dan menepis tekanan dan ancaman PSSI atas mereka. Sikap Persema dan Irfan Bachdim membuat skor sementara LPI (1)–LSI (0)! Bahkan Irfan menjadi sosok pahlawan perlawanan terhadap PSSI yang dianggap tiran dan mengganjal LPI dengan segala cara! Pertikaian ini tentu saja bermuara pada satu tujuan: menurunkan Nurdin Halid dari PSSI beserta seluruh kepengurusan yang pro padanya. Nah di sinilah mulai kita rasakan nuansa politik yang kental dalam olah raga yang kita anggap bisa bersih dari kepentingan politik. Masyarakat pecinta sepakbola pun menjadi politis! Toh yang menginginkan dan teriak “Nurdin turun...” di SUGBK saat final Piala AFF 2010 bukan orang partai politik? Tapi penonton! *** (Bersambung)
Penulis adalah pengamat sepakbola nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar